Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya
Manusia hidup dengan tujuan di dalam hatinya. Tujuan itu memacunya
untuk bangun pagi, dan kemudian bekerja. Tanpa tujuan, hidupnya terasa
hampa. Tujuan yang mengental kuat kerap menjadi ambisi.
Ia lalu berusaha untuk mencapai ambisi tersebut. Segala daya upaya
dilakukan, supaya ambisi itu menjadi kenyataan. Di dalam pertarungan
politik dan bisnis, cara-cara yang jahat pun kerap digunakan. Tujuan dan
ambisi hidup sering mengaburkan tata nilai dalam hidup kita.
Ambisi membuat kita hidup dalam tegangan. Kecemasan dan kegelisahan
hidup membayangi hidup orang yang berambisi. Satu hal yang pasti disini,
usaha bisa dilakukan, tetapi hasil tidak ada yang bisa memastikan.
Ketidakpastian ini membuat tegangan di dalam diri menjadi semakin besar.
Di dalam setiap keputusan, selalu ada dua kemungkinan, gagal atau
berhasil. Kemenangan adalah kemungkinan. Keberhasilan adalah
kemungkinan. Ia bukanlah kemutlakkan, bahkan jika kita telah
mengupayakan segala cara untuk mencapainya.
Kekalahan dan kegagalan juga suatu kemungkinan nyata. Ia dijauhi.
Namun, ia terus menghantui setiap usaha kita. Ia tak bisa disangkal,
walaupun kita mengupaya segala cara untuk menjauhinya.
Ada satu cerita kecil dari Cina Kuno. Ketika seorang pemanah memanah
tanpa kepentingan dan emosi, ia memiliki kemampuan tertingginya.
Kemungkinan besar, ia akan berhasil. Ketika ia memanah untuk memenangkan
pertandingan, kemampuannya menurun seperempat. Kemungkinan besar, ia
akan gagal memanah targetnya. Ketika ia memanah untuk mendapatkan hadiah
emas dan permata, ia kehilangan seluruh kemampuannya. Kegagalan adalah
kepastian.
Inti dari cerita ini adalah soal kebebasan di dalam hati. Orang harus
berusaha, tanpa emosi dan obsesi akan keberhasilan di masa depan. Ia
harus berusaha, tanpa terpaku pada hasil yang akan dicapainya di masa
depan. Pendek kata, ia harus berusaha dengan kebebasan: siap menang, dan
siap kalah.
Kekalahan adalah “kata”. Ia adalah label yang kita tempelkan pada
suatu peristiwa. Ia bukanlah kenyataan itu sendiri. Ia adalah tempelan
pikiran kita atas pengalaman tertentu.
Begitu pula dengan kemenangan. Ia juga adalah “kata”. Ia juga adalah
label. Ia bukanlah kenyataan dan ia akan berubah, sejalan dengan
perubahan manusia dan masyarakat.
Keduanya sementara dan semu. Keduanya akan berubah. Keduanya akan
datang, dan kemudian pergi. Orang yang menjadikan kemenangan ataupun
kekalahan sebagai tujuan sekaligus obsesi dalam hidupnya berarti
menjalani hidup yang palsu.
Sejatinya, hidup bukanlah soal menang atau kalah. Ia bukanlah
perlombaan. Ia bukanlah pertempuran. Ia bukanlah pengejaran ambisi. Ia
bukanlah usaha untuk menghindari kegagalan atau kekalahan.
Sejarah manusia juga sudah membuktikan ini. Pemenang di masa lalu
akan kalah di masa kini. Yang kalah di masa lalu juga akan menang di
masa kini, atau di masa depan. Roda hidup bergerak, tak peduli, siapa
yang kalah, siapa yang menang.
Kita tidak boleh sibuk terfokus pada kalah dan menang. Semuanya
adalah semu dan palsu. Kita perlu belajar untuk melihat apa yang lebih
kekal dan lebih dalam dari kekalahan ataupun kemenangan. Kita perlu
untuk “melampaui” kekalahan dan kemenangan.
Apa yang kekal? Yang kekal adalah kebebasan hati. Kita perlu berusaha
menyadari hidup kita, lalu mencapai kebebasan di dalam hati. Kebebasan
ini membuat kita tidak lagi memilih antara menang atau kalah. Kita juga
tidak lagi memilih sakit atau senang, kaya atau miskin. Kita bebas dari
obsesi dan ambisi, sambil terus bekerja mengisi hidup kita dengan
hal-hal yang bermakna.
Siap menang, siap kalah, itulah tanda kebebasan hati. Tim sepak bola
Brazil harus menelan banyak kekalahan besar di Piala Dunia 2014 lalu.
Mereka siap menang, lalu belajar untuk kalah. Mereka pemenang di masa
lalu. Namun, kini, mereka merasakan cecap kekalahan.
Prabowo telah kalah dan mengundurkan diri dari Pemilu politik
Indonesia 2014 ini. Ia bekerja keras untuk menang. Ia berambisi dan
terobsesi untuk menang. Namun, apakah ia siap untuk kalah? Apakah ia
punya kebebasan di dalam hatinya untuk menjalani kekalahannya?
Kebebasan dalam hati membuat orang melampaui menang dan kalah dalam
hidupnya. Ia lalu bisa melihat keadaan hidupnya dengan jernih.
Kejernihan ini menghasilkan kedamaian hati. Hidupnya bahagia. Ia tak
lagi gelisah mengejar ambisi, atau takut akan kegagalan.
Kebebasan dalam hati membuat kita bisa memutuskan dengan jernih. Kita
tidak lagi dikotori oleh kepentingan maupun ambisi. Kita tidak lagi
memiliki emosi negatif yang mengotori penilaian kita. Kita akan hidup
dengan bahagia, dan bisa menjadi pemimpin yang baik di bidang-bidang
yang kita jalani.
Dengan kebebasan hati, keberhasilan dan kegagalan tidak memiliki arti
lagi dalam hidup kita. Kita siap kalah, siap menang, bahkan siap untuk
kehilangan segalanya. Kita siap untuk segalanya. Hati kita tenang,
walaupun dunia seolah terbalik.
hanya ingin berbagi saja dari apa yang sudah dibagi. terima kasih
Sumber :: http://rumahfilsafat.com/2014/07/26/siap-menang-siap-kalah-tentang-kebebasan-hati/
0 Komentar untuk "Siap Menang, Siap Kalah: Tentang Kebebasan Hati"